Minggu, 27 November 2016

Oase Iman Buya Yahya

Oleh : Buya Yahya Pengasuh LPD Al-Bahjah www.buyayahya.org www.buyayahya.net www.albahjah.tv Suatu ketika, saat Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain (yang saat itu masih anak-anak) melihat seorang kakek yang sedang berwudhu dengan cara yang salah. Muncullah keinginan dari kedua cucu Rasulullah SAW ini untuk bisa mengingatkan orang tua tersebut, agar amal ibadahnya benar tanpa menyinggung perasaanya. Kemudian Sayyidina Hasan bersepakat dengan Sayyidina Husain untuk berlomba wudhu dan menjadikan sang kakek sebagai juri yang akan menilai kebenaran wudhu mereka. Lomba berwudhu pun dimulai. Dan di akhir perlombaan tersebut, sang kakek pun tersadar bahwa wudhu Sayyidina Hasan dan Husain ternyata lebih benar dan sempurna dari wudhunya sendiri. Ini adalah pelajaran dakwah dari cucu Rasulullah SAW, dengan menyertakan kemuliaan akhlak dan tatakrama dalam mengingatkan orang lain khususnya orang yang lebih tua. Sahabatku, mengingatkan orang lain artinya kita mengajak orang lain agar bisa lebih baik dan benar, bukan untuk menghukuminya sebagai yang salah dan terhinakan. Melihat orang lain dengan penuh kasih sayang dan menghargainya adalah pancaran ketulusan seorang penyeru kebaikan. Dari situlah kejayaan dihadapan Allah SWT akan diperoleh. Pembelajaran ini sangat tepat bagi Juru dakwah termasuk di dalamnya adalah Ustadz dan Kyai. Disaat seseorang menyampaikan kebaikan haruslah ia melihat dirinya sebagai yang membutuhkan pahala dan penghargaan dari Allah SWT dibalik upaya dakwahnya sebelum melihat kepada orang lain sebagai orang yang membutuhkan kepada ajakannya. Makna “membutuhkan” inilah yang menjadikan seseorang tidak kenal putus asa dalam mengenalkan kebaikan kepada orang lain. Hingga ia senantiasa mengambil cara yang paling indah agar ajakannya bisa diterima oleh orang lain sebagai perwujudan makna hikmah yang diajarkan oleh Allah kepada Rasulullah SAW yang sekaligus harus kita ikuti. Sahabatku, Sayyidina Hasan dan Sayyidia Husain dalam usianya yang masih amat dini ini sangat paham makna hikmah berdakwah, karena mereka adalah cucu dari sumber hikmah, Rasulullah SAW. Beliau berdua tidak ingin menyakiti hati orang tua tersebut dengan “salah menegur” saat sang kakek salah dalam berwudhu. Maka dengan ketulusan dan kerendahan hati, mereka berperan sebagai orang yang ingin benar didalam berwudhu padahal sebenarnya mereka ingin membenarkan wudhu orang lain. “Alangkah mulianya akhlakmu wahai cucu Rasulullah SAW…”. Dan alangkah indahnya siapapun yang ingin mengajak kepada kebaikan lalu mengajak dengan penuh kasih dan ketawadhuan. Sungguh dakwah bukanlah pamer ilmu atau bangga akan sebuah gelar. Akan tetapi dakwah harus berangkat dari keindahan menuju keindahan dan dengan cara yang indah. Dan setelah itu, mari kita bercermin, sadar diri dan mencermati diri dan di sekitar kita! Dimana hikmah dan akhlak kita saat mengajak orang lain kepada kebaikan? Bisakah menuai hasil jika mulut dan lidah kita tidak luput dari kalimat cacian dan penghinaan terhadap orang yang kita anggap salah ? Dimana kasih sayang dan kerinduan kita untuk merindukan orang lain kepada Allah SWT? Jangan sampai ajakan kita kepada Allah berubah menjadi ajakan kepada diri sendiri atau kelompok. Bisakah orang lain rindu kepada Allah jika yang mengajak bukanlah orang yang merindukan Allah SWT? Dari kerinduan kepada Allah inilah akan hadir ajakan yang dirindukan dan penuh kasih untuk menghantarkan hamba-hamba Allah kepada kerinduan kepada Allah SWT yang sesungguhnya.. Wallahu a’lam bisshowab

Sabtu, 26 November 2016

APA ITU MULUKIYYAH?

Baca baik-baik dan perhatikan dengan seksama_ Kaum Mulukiyyah, adalah sekelompok orang yang membangun agamanya berdasarkan kekuasaan. Artinya, mereka patuh dan taat pada rezim penguasa meskipun penguasa itu anti SYARIAT. Tradisi mereka yang sudah lama membudaya adalah, berdalil dengan hadits-hadits tentang wajibnya taat pada pemimpin bla bla bla bla......., dan seterusnya. secara tekstual, hadits-hadits itu memang benar. Tidak ada yang salah dengan hadits-hadits itu. Namun secara kontekstual dalil-dalil itu tidak mereka letakkan pada tempatnya. Contoh sederhana: Mereka menyamakan Presiden dengan Khalifah. secara lisan memang tidak, tetapi sikap di lapangan begitu adanya. Sehingga melahirkan prilaku yang kontradiktif. Mereka menyamakan sistem pemerintahan islami dengan sistem pemerintahan demokrasi. Seakan-akan mereka menyamakan Jokowi dengan Khalifah 'Ali. Ini kan tidak masuk akal namanya. Tapi begitulah doktrin mereka. sehingga memancing respon sejumlah pakar hadits dan tokoh ummat di negeri ini. diantaranya Ustad DR. Anung Al-Hammat,Lc.M.Pd. beliau menulis buku khusus mengkritik tajam pemikiran kelompok mulukiyyah ini. buku itu berjudul "Mewaspadai Pemahaman Neo Murji'ah". Nah berangkat dari itu semua, mereka lemparkan tuduhan "khawarij" kepada setiap muslim yang tidak sependapat dengan faham pemerintah atau yang tidak setuju dengan kebijakan pemerintah. itu mereka lakukan diberbagai kesempatan; baik di majelis-majelis taklim mereka, radio-radio mereka, dan media-media dakwah mereka; seperti majalah, buku, dan yang semisalnya. Mereka lontarkan tuduhan "Hizbi", "Khawarij", atau "Ahli Bid'ah" kepada setiap kalangan yang tidak sepemahaman dengan mereka. Kebenaran itu hanya milik mereka, kelompok mereka, ustad mereka, dan radio mereka. Sedangkan selainnya sesat semua. Walhasil, surga itu hanya kavling milik mereka dan kelompoknya saja. Bahasa dan slogan yang sering mereka gunakan misalnya adalah: "ah itu bukan ustad sunnah", "ah itu bukan ustad salaf", dan seterusnya. Nah inilah prilaku Talaf, artinya prilaku yang "merusak". Maka orang-orang yang bermanhaj Mulukiyyah seperti ini sering juga disebut dengan istilah "Talafi". Yang artinya kaum perusak. Merusak apa? Merusak persatuan, merusak kedamaian, merusak persaudaraan dan cinta kasih sesama muslim, merusak hati dan keimanan, dst. Intinya, hampir semua sisi kehidupan ummat mereka rusak dengan DOKTRIN-DOKTRIN, propaganda, dan pembodohan secara massif. Sehingga mereka disebut kelompok 'Talafi' atau 'Talafiyyun'. Artinya, 'Kaum Perusak'. Singkatnya begini, Talaf itu prilakunya. dan Mulukiyyah itu ajarannya atau pola fikirnya. UNIKNYA, prilalu mereka sangat licik dan standar ganda. Ketika mereka di kritik terbuka dan disebut "Mulukiyyah", mereka tidak terima sembari membantah. Mereka tidak terima. Kejang-kejang dan teriak-teriak seperti kuntilak beranak dalam kubur. Tapi pada saat yang sama, lisan mereka begitu tajam menyesatkan orang lain. Mereka begitu gampang memvonis orang lain dengan tuduhan "hizbi", "quthubiy", "takfiri", "khawarij", dan seterusnya. Seolah-olah hanya mereka yang berhak masuk Surga dan menyandang predikat "pengikut salaf sejati", sedangkan selain mereka bukan. Demikianlah ciri utama kelompok MULUKIYYAH itu. Allahul Musta'an.

MANUSIA TERBAGI EMPAT GOLONGAN

Dawuh Syeikh Abdul Qodir al-Jailani Q.S. bahwa manusia itu terbagi atas empat golongan : PERTAMA ; Golongan orang yang tidak mempunyai lisan dan hati. Mereka adalah golongan pelaku ma'siyat juga bodoh, maka berhati hatilah agar engkau tidak menjadi bagian dari mereka, karena mereka ahli adzab. KEDUA ; Golongan orang yang hanya mempunyai lisan namun tidak memiliki hati. Mereka berbicara dan menyampaikan hikmah namun tidak mengamalkannya, mereka mengajak manusia kepada Allah, namun mereka lari menghindar dari Allah. Jauhi mereka, agar engkau tidak terlena oleh lisannya dan kemudian engkau ikut terbakar oleh ma'siyat yang dilakukannya, dan kemudian bau bangkai hati mereka membunuhmu. KETIGA ; Golongan orang yang hanya mempunyai hati namun tak punya lisan. Mereka adalah orang yang beriman yang sengaja Allah menutupi mereka dari pandangan manusia, Allah menganugrahkan mereka hanya melihat pada aib dan kekurangannya, Allah menyinari hati mereka, dan Allah memberitahu mereka akan kerusakan ketika bergaul dengan manusia, dan kerusakan ketika berbicara dengan ucapan yang buruk. Mereka adalah waliyullah, mereka terjaga dalam satar Allah, mereka melaksanakan segala kebaikan, maka carilah mereka , gauli mereka, berkhidmahlah pada mereka, niscaya Allah mencintaimu. KEEMPAT ; Golongan orang yang belajar ilmu dan mengajarkan ilmu serta mengamalkan ilmunya. Mereka adalah al-'aalim billahi, mereka mengetahui Allah dan pada ayat-ayatNya. Allah menitipkan kepada mereka, ilmu yang agung, Allah lapangkan dada/hati mereka untuk menerima berbagai ilmu pengetahuan. Maka hati hati dan waspadalah, jika engkau menyalahi dan menjauhi mereka, serta tidak kembali pada nasihat nasihatnya. 📚Rujukan Kitab : Nashoihul 'Ibad : hal 15 والناس تنقسم الى اربعة اقسام كما قاله سيدى عبد القادر الجيلاني قدس الله سره: رجل لا لسان له ولا قلب، وهو العاصى العر فاحذر ان تكون منهم ولا تقم فيهم فانهم اهل العذاب. ورجل له لسان بلا قلب، فينطق بالحكمة ولا يعمل بها، يدعو الناس الى الله تعالى وهو يفر منه لئلا يخطفك بلذيذ لسانه فتحرقك نار معاصيه ويقتلك نتن قلبه. ورجل له قلب بلا لسان وهو مؤمن ستر الله عن خلقه وبصره بعيوب نفسه ونور قلبه وعرفه غوائل مخالطة الناس وشؤم الكلام، فهذا رجل ولي الله تعالى محفوظ فى ستر الله تعالى، فالخير كل الخير عنده، فدونك ومخالطته وخدمته فيحبك الله تعالى. ورجل تعلم وعلم وعمج بعلمه وهو العالم بالله تعالى وآياته، استودع الله قلبه غرائب علمه وشرح صدره لقبول العلوم، فاحذر ان تخالفه وتجانبه وةرك الرجوع الى نصيحته.

Jumat, 18 November 2016

TABARUK

Dalil Tentang Bolehnya Bertabaruk Bertabarruk yang dimaksud di sini, adalah seseorang yang sengaja mencari (Jawa : ngalap) barakah dari sesu atu yang diyakini baik, dan tidak bertentangan dengan syariat Islam.Adakalanya dengan mengambi sesuatu, atau mengusap sesuatu, atau meminum sesuatu, atau sesuatu, bahkan melakukan sesuatu dengan tujuan mencari barakah.Ada seseorang yang menjalankan bisnis milik orang lain tanpa meminta sedikitpun bayaran atau keuntungan dari bisnisnya itu, sebab ia hanya ingin mencari barakah, karena si pemilik modal tiada lain adalah kiai/ustadz/guru agama-nya. Ada juga yang sengaja mencium tangan atau bahkan dada seseorang yang dianggap shaleh maupun `alim dengan tujuan mencari barakah. Atau mendatangi seorang yang shaleh dengan membawa air lantas minta dibacakan surat Alfatihah atau doa kesembuahan dan sebagainya, senuanya itu bertujuan mencari barakah. Demikian dan seterusnya. Adapun amalan-amalan yang tertera di atas adalah menirukan perilaku para shahabat Nabi saw. sebagaimana yang ditulis para ulama salaf dalam buku-buku mereka, antara lain : (1). Imam Ibnu Hajar Alhaitsami menulis dalam kitab Majma`uz zawaid, 9:349 yang disebutkan juga dalam kitab Almathaalibul \`Aaliyah, 4:90 : Diriwayatkan dari Ja`far bin Abdillah bin Alhakam, bahwa shahabat Khalid bin Walid RA, Panglima perang tentara Islam, pada saat perang Yarmuk kehilangan songkok miliknya, lantas beliau meminta tolong dengan sangat agar dicarikan sampai ketemu. Tatkala ditemukan, ternyata songkok tersebut bukanlah baru, melainkan sudah hampir kusam, lantas beliau mengtakan : Tatkala Rasulullah saw. berumrah, beliau saw. mencukur rambutnya saat bertahallul, dan orang-orang yang mengetahuinya, mereka berebut rambut Rasulullah saw., kemudian aku bergegas mengambil rambut bagian ubun-ubun, dan aku selipkan pada songkokku ini, dan sejak aku memakai songkok yang ada rambut Rasulullah saw. ini, maka tidak pernah aku memimpim peperangan kecuali selalu diberi kemenangan oleh Allah. (2). Imam Bukhari dalam Kitabus syuruuth, babus syuruuthu fil jihaad, meriwayatkan dari Almasur bin Makhramah dan Marwan, mengatakan bahwa Urwah (tokoh kafir Quraisy) memperhatikan perilaku para shahabat Nabi SAW., lantas mengkhabarkan kepada kawan-kawannya sesama kafir Quraisy : Wahai kaumku, demi tuhan, aku sering menjadi delegasi kepada para raja, aku menjadi delegasi menemui Raja Kaisar, Raja Kisra, dan Raja Najasyi, tetapi demi tuhan belum pernah aku temui para pengikut mereka itu dalam menghormati para raja itu, seperti cara para shahabat dalam menghormati Muhammad (SAW.), demi tuhan, setiap Muhammad meludah, pasti telapak tangan mereka dibuka lebar-lebar untuk menampung ludah Muhammad, lantas bagi yang mendapatkan ludah itu pasti langsung diusapkan pada wajah dan kulit masing-masing (tabarrukan). Jika Muhammad memrintahkan sesuatu, mereka bergegas menjalankannya. Jika Muhammad berwudlu mereka berebut bahkan hampir berperang hanya untuk (bertabarruk) mendapatkan air bekas wudlunya. Jika mereka berbicara di depan Muhammad pasti merendahkan suaranya, mereka tidak berani memandang wajah Muhammad dengan lama-lama karena rasa hormat yang sangat dan lebih daripada umumnya. (3). Imam Muslim dalam kitab Shahihnya meriwayatkan dari Anas bin Malik RA, bahwa Nabi saw. datang ke Mina, lantas melaksanakan lempar Jumrah, kemudian mencukur rambutnya, dan meminta kepada si pencukur untuk mengumpulkan rambutnya, dan beliau saw. membagikannya kepada masyarakat muslim. (2). Riwayat serupa di atas juga terdapat dalam kitab Sunan Tirmidzi, yang mengatakan bahwa Nabi saw. menyerahkan potongan rambutnya kepada Abu Thalhah dan beliau saw. memerintahkan : Bagikanlah kepada orang-orang. (3). Imam Muslim meriwayatkan juga dari shahabat Anas RA berkata, bahwa suatu saat Nabi saw. beristirahat tidur di rumah kami sehingga beliau saw. berkeringat, lantas ibu kami mengambil botol dan menampung tetesan keringat Nabi saw., kemudian Nabi saw. terbangun dan bersabda : Wahai Ummu Sulaim, apa yang engkau lakukan ? Ummu Sulaim menjawab : Kami jadikan keringatmu ini sebagai parfum, bahkan ia lebih harum dari semua jenis parfum. (4). Sedangkan dalam riwayat Ishaq bin Abi Thalhah, bahwa Ummu Sulaim istrinya Abu Thalhah menjawab : Kami mengharapkan barakahnya untuk anak-anak kami. Lantas Nabi saw. bersabda : Engkau benar. (5). Imam Thabarani meriwayatkan dari Safinah RA, berkata : Tatkala Rasulullah saw. berhijamah (canthuk), beliau saw. bersabda kepadaku: Ambillah darahku ini, dan tanamlah jangan sampai ketahuan binatang liar, burung, maupun orang lain..! Lantas aku bawa menjauh dan aku minum, kemudian aku ceritakan kepada beliau saw., maka beliau tertawa. (6). Imam Thabarani juga meriwayatkan hadits penguat, Nabi saw. bersabda : Barangsiapa yang darah (daging)-nya bercampur dengan darahku, maka tidak bakal disentuh api neraka. (7). Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari Anas RA, bahwa suatu saat Nabi saw. mampir ke rumah Ummu Sulaim, yang dalam rumah itu ada qirbah (tempat air minum) menggantung, lantas beliau saw. meminumnya secara langsung dari bibir qirbah itu dengan berdiri, kemudian Ummu Sulaim menyimpan qirbah tersebut untuk bertabarruk dari sisa bekas tempat minum Nabi saw. (8). Ibnu Hajar Alhaitsami menulis riwayat hadits dari Yahya bin Alharits Aldzimaari berkata : Aku menemui Watsilah bin Al-asqa` RA lantas aku tanyakan : Apa engkau membaiat Rasulullah dengan tanganmu ini ? Beliau menjawab : Ya.. ! Aku katakan : Sodorkanlah tanganmu untukku, dan aku akan menciumnya. Kemudian beliau memberikan tangannya kepadaku, dan akupun menciumnya. (HR. Atthabarani). (9). Imam Bukhari meriwayatkan dari Abdurrahman bin Razin, mengatakan ; Kami melintas di Arrabadzah, lantas diinfokan kepada kami : Di situ ada Shahabat Salamah bin Al-aqwa` RA, lantas kami menjenguk beliau RA, dan kami ucapkan salam. Lantas beliau RA menjulurkan tangannya seraya berkata : Aku membaiat Nabi saw. dengan kedua tanganku ini...! Kemudian beliau membuka telapak tangannya yang gemuk besar, kemudian kami berdiri dan kami menciumnya. (10). Imam Bukhari meriwayatkan dari Asmaa binti Abu Bakar RA, beliau sedang mengeluarkan baju jubbahnya Nabi SAW. dan berkata : Ini jubbahnya Rasulullah saw., yang dulunya disimpan oleh `Aisyah, hingga `aisyah wafat, sekarang aku simpan...! Dulu Nabi saw. mengenakan jubbah ini, sekarang sering kami cuci (dan airnya khusus kami berikan) kepada orang yang sakit untuk penyembuhan (dengan bertabarruk dari air bekas cucian jubbah tersebut). (11). Ibnu Taimiyyah dalam kitab karangannya, Iqtidhaaus shiraathil mustaqiim, hal 367, meriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal, bahwa beliau memperbolehkan amalan mengusap mimbar masjidnya Nabi SAW. dan ukirannya, untuk tabarrukan, karena Shahabat Ibnu Umar RA serta para Tabi`in seperti Sa`id bin Musayyib dan Yahya bin Sa`id yang tergolong ahli fiqih kota Madinah juga mengusap mimbar Nabi saw. tersebut. Masih banyak bukti hadits-hadits Nabi saw. tentang bolehnya bertabarruk kepada barang-barang milik Nabi saw., serta milik orang-orang shalih, dengan berbagai macam bentuk dan cara termasuk mencium makam kuburan Nabi saw. dan para wali serta orang-orang shalih, selama tidak melanggar syariat Islam. Namun jika sampai menyembah karena mempertuhankan barang-barang tersebut, tentunya diharamkan oleh syariat Islam. Termasuk diharamkan juga adalah perilaku orang awwan yang menyembah dan memberi sesajen kepada tempat-tempat maupun kuburan-kuburan angker yang diyakini ada jin penunggu untuk dimintai banyak hal, padahal tempat-tempat tersebut bukanlah tempat yang berbarakah dalam standar syariat Islam. *"SEMOGA BERMANFAAT"*

Kamis, 17 November 2016

HUKUM DALAM ISLAM

JAWABAN BAGI MEREKA PERTANYAAN SEPUTAR TAHLILAN & HUKUM-HUKUM NYA Dalam keyakinan para ulama Aswaja, sumber hukum Islam itu ada 4: 1. Nash Alquran 2. Nash Hadits 3. Ijma' Ulama (khususnya para shahabat). 4. Qiyas. Jadi tidak semua amalan umat Islam, khususnya dalam bidang amalan Sunnah itu, harus ada dalil Qath'i dari Alquran atau Hadits (apalagi contoh langsung dari Nabi S.A.W). Karena Alquran dan Hadits juga sudah membuka lebar pintu Ijtihad bagi para ulama yg kompenten di bidangnya, hingga dapat dijadikan rujukan umat Islam. فاسألوا اهل الذكر ان كنتم لا تعلمون Tanyalah kepada ahi ilmu (ulama) jika kalian tidak memahaminya. العلماء ورثة الانبياء Ulama itu adalah pewaris para nabi Masih banyak dalil tentang bolehnya umat Islam mengikuti ijtihad para ulama. Tahlilan dengan cara "MENGISLAMKAN ADAT" termasuk dari hasil ijtihad serta qiyas yg dilakukan oleh para ulama jaman dahulu kala (Salaf). Ini juga termasuk mencontoh Nabi Muhammad SAW saat 'MENGISLAMKAN ADAT YAHUDI' yang selalu berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram), namun dg dirobah menjadi puasa sunnah setiap tgl 9-10 atau 10-11 Muharram, lantas diqiyaskan dengan pelaksanaan Tahlilan. Bahkan Nabi S.A.W bersabda: اقرؤوا يس على موتاكم Bacakan surat Yasin untuk mayit kalian. Berikut cacatan tentang bolehnya berijtihad dengan syarat-syarat tertentu sesuai yang ditulis oleh KH. Luthfi Bashori sebagai berikut: BOLEH BERIJTIHAD ASALKAN... ! Luthfi Bashori Sy. Muadz bin Jabal RA mengisahkan, ketika Rasulullah SAW mengutusnya ke Yaman beiau SAW bertanya kepadanya, “Apa yang kamu lakukan jika dihadapkan kepadamu suatu masalah?” Sy. Muadz bin Jabal RA menjawab, “Aku pututskan dengan hukum yang ada di Al-Quran.” “Jika tidak ada hukumnya di dalam Al-Qur’an?” tanya Nabi SAW. Sy. Muadz katakan, “Aku putuskan berdasrkan Sunnah Rasulullah SAW.” Rasulullah SAW bertanya kembali, “Jika tidak hukum-Nya dalam As-sunnah?” “Aku akan berijtihad dengan pendapatku,” tegas Sy. Muadz bin Jabal Ra. Nabi Muhammad SAW menepuk dadanya. “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik kepada utusan Rasul-Nya, demi keridhaan Allah dan Rasulu-Nya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Al-Baihaqi) Menurut para ulama, tidak semua orang dibenarkan melakukan ijtihad. Seseorang yang melakukan ijtihad haruslah memiliki banyak persyaratan pokok, antara lain: 1. Memahami dengan sungguh-sungguh tafsir ayat-ayat Al-Quran dengan asbabun nuzulnya (yakni sebab-sebab turunnya Al-Quran), ayat-ayat nasikh dan mansukh (yang menghapuskan dan yang dihapus), dan gharaibul Quran. 2. Memahami hadits dan asbabul wurudnya (sebab-sebab munculnya hadits). Nasikh mansukhnya, serta delik ilmu musthalah haditsnya. 3. Menguasai bahasa Arab, baik grametikal maupun conversationnya dan seluruh cabang nahwu maupun dialegnya. 4. Mengetahui tempat-tempat hasil ijma’ para shahabat serta para ulama salaf ahli ijtihad sebelumnya. 5. Memahami ushul fiqih secara detil. 6. Memahami maksud-maksud syariat (maqashidus syariah) 7. Memahami masyarakat dan adat-istiadatnya sebagai obyek ijtihadnya. 8. Secara pribadi mempunyai sifat adil dan taqwa, menurut setandar para ulama. 9. Mengusai ilmu ushuluddin/ tauhid/ aqidah (salah satu cabang dari ilmu-ilmu keislaman yang membahas pokok-pokok keyakinan dalam Islam. 10. Memahami ilmu mantik (logika) yang rasional. 11. Meguasai cabang-cabang ilmu fiqih. 12. Dan sebagainya. Jika persyaratan di atas ini belum terpenuhi, maka haram bagi seseorang untuk berijtihad dalam urusan bersyariat, namun kewajibannya adalah bertaqlid mengikuti hasil ijtihad para ulama terdahulu, yang mana mereka telah menyusun kitab-kitab fiqh untuk memudahkan umat Islam yang belum mampu berijtihad dalam melaksakan kewajiban bersyariat. Adapun dewasa ini, hasil ijtihad para ulama Salaf yang diakui keabsahannya dan kevalidannya oleh dunia Islam itu ada pada empat madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Maka jika ada madzhab lain yang dimunculkan selain dari empat madzhab ini, maka dihukumi sebagai madzhab yang syadz atau menyimpang. Sedangkan para ulama yang hidup di jaman sekarang dan memenuhi syarat ijtidah, sekalipun belum sampai pada standar keilmuan para mujtahid mutlaq (setara Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi`i dan Imam Ahmad bin Hanbal) jika mereka berijtihad terhadap suatu permasalahan keumatan yang sedang berkembang, maka dapat dibenarkan selagi tidak keluar dari koridor aturan dari salah satu empat madzhab di atas, maka hasil ijtihadnya itu dapat dicetuskan dalam bentuk fatwa. SEMOGA BERMANFAAT

KUMPULAN DO'A

🅾 Bismillaah, .. Kumpulan do'a-do'a nabi kita di dalam al-qur'an. * آدم 🔲Doa Nabi Adam "ربنا ظلمنا أنفسنا وإن لم تغفر لنا وترحمنا لنكونن من الخاسرين" [QS. Al A'raf : 23] * نوح 🔲Doa Nabi Nuh "رب اغفر لي ولوالدي ولمن دخل بيتي مؤمناً وللمؤمنين والمؤمنات ولاتزد الظالمين إلا تبارا" [QS. Nuuh : 28] * هود 🔲Doa Nabi Hud "إني توكلت على الله ربي وربكم ما من دآبة إلا هو آخذ بناصيتها إن ربي على صراط مستقيم" [QS. Hud : 56] * أبراهيم 🔲Doa Nabi Ibrahim "رب اجعلني مقيم الصلاة ومن ذريتي ربنا وتقبل دعاء ". [QS. Ibrahim : 40] "ربنا تقبل منا إنك أنت السميع العليم وتب علينا إنك أنت التواب الرحيم" [QS. Al Baqarah : 127-128] * يوسف 🔲Doa Nabi Yusuf "فاطر السموات والأرض أنت وليي في الدنيا والآخرة توفني مسلما وألحقني بالصالحين" [QS. Yusuf : 101] * شعيب 🔲Doa Nabi Syu'aib "وسع ربنا كل شيء علما على الله توكلنا ربنا أفتح بيننا وبين قومنا بالحق وأنت خير الفاتحين" [QS. Al A'raf : 89] * موسى 🔲Doa Nabi Musa "رب بما أنعمت علي فلن أكون ظهيرا للمجرمين [QS. Al Qashash : 18] رب اشرح لي صدري ويسر لي أمري واحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي" [QS. Thahaa : 25-28] * سليمان 🔲Doa Nabi Sulaiman "رب أوزعني أن أشكر نعمتك التي أنعمت علي وعلى والدي وأن أعمل صالحا ترضاه وأدخلني برحمتك في عبادك الصالحين" [QS. Al Ahqaf : 15] * أيـــوب 🔲Doa Nabi Ayyub "رب أنى مسني الضر وأنت أرحم الراحمين" [QS. Al Anbiyaa' : 83] * يونـس 🔲Doa Nabi Yunus "لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين" [QS. Al Anbiyaa' : 87] * يعقوب 🔲Doa Nabi Ya'qub "انما أشكو بثي وحزني إلى الله" [QS. Yusuf : 86] * محمـد صلى الله عليه وسلم 🔲Doa Nabi Muhammad "ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنه وقنا عذاب النار" [QS. Al Baqarah : 201] :.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:.:. أدعيه حلـوِْوه مـَُِنٍّ القرآن الكريم ..💐 Doa2 indah yang terdapat di dalam Al Quran تريد ذرية صالحة: 🌷 Doa agar mendapatkan keturunan yang sholih رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ [QS. Ali Imran : 38] رَبِّ لَا تَذَرْنِي فَرْدًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْوَارِثِينَ [QS. Al Anbiyaa : 89] خائف يزوغ قلبك: 🌷 Doa agar hati tidak dicondongkan kpd Kesesatan رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّاب [QS. Ali Imraan : 8] تريد الشهادة: 🌷 Doa agar mendapatkan Syahid رَبَّنَا آمَنَّا بِمَا أَنْزَلْتَ وَاتَّبَعْنَا الرَّسُولَ فَاكْتُبْنَا مَعَ الشَّاهِدِينَ [QS. Ali Imran : 53] شايل هم كبير: 🌷 Doa menghilangkan kegundahan yang besar حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ [QS. At Taubah : 129] تريد تحافظ على الصلاة أنت وذريتك: 🌷 Doa agar bisa menjaga sholat رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ [QS. Ibrahim : 40] تريد زوجتك وعيالك مسخرين لك: 🌷 Doa agar istri & anak menjadi penyejuk mata رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا [QS. Al Furqon : 74] بيت مبارك لك فيه: 🌷 Doa agar rumah kita diberkahi رَبِّ أَنْزِلْنِي مُنْزَلًا مُبَارَكًا وَأَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِين [QS. Al Mu'minuun : 29] تبعد الشياطين عنك: 🌷 Doa agar kita dijauhkan dari tipu daya setan رَبِّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاطِينِ وَأَعُوذُ بِكَ رَبِّ أَنْ يَحْضُرُونِ [QS. Al Mu'minuun : 97] خائف من عذاب جهنم: 🌷 Doa ketika takut siksaan Jahannam رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا [QS. Al Furqon : 65] خائف من الله لا يقبل عملك 🌷 Doa ketika takut amal kita tidak diterima رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّك أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ [QS. Al Baqarah : 127] حزين بحياتك: 🌷 Doa ketika bersedih dalam hidup إنما أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّه [QS. Yusuf : 86] لا تحرم غيرك من احلى الأدعيهالقرآنيه Jangan menghalangi saudaramu dari manisnya doa2 di dalam Al Quran ini نصيحة : استمر في ارسالھا لعلها تكون لك صدقة جارية Nasihat : teruskanlah pesanan ini kpd saudara2 kita, semoga kelak akan menjadi sedekah jariah bagi kita semua 〰〰〰

Rabu, 16 November 2016

PESAN NABI SEBELUM WAFAT

PESAN RASULULLAH SEBELUM WAFAT ---------------------------------------------------------------- Sebelum malaikat Izrail diperintah Allah SWT untuk mencabut nyawa Nabi Muhammad , Allah berpesan kepada malaikat Jibril “Hai Jibril, jika kekasih-Ku menolaknya, laranglah Izrail melakukan tugasnya!” Sungguh berharganya manusia yang satu ini yang tidak lain adalah Nabi Muhammad SAW. Di rumah Nabi Muhammad SAW, Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk sambil berkata, “Maafkanlah, ayahku sedang demam” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian Fatimah kembali menemani Nabi Muhammad SAW yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?”. “Tak tahulah ayahku, sepertinya orang baru, karena baru sekali ini aku melihatnya” tutur Fatimah lembut. Lalu, Rasulullah menatap puterinya dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang. “Ketahuilah wahai anakku, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikatul maut” kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakan tangisnya. Malaikat maut pun datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut bersama menyertainya. Kemudian dipanggillah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah SWT dan penghulu dunia ini. “Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. “Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu” kata malaikat Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. “Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jmalaikat ibril lagi. “Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar bahwa Allah berfirman kepadaku: Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya” kata malaikat Jibril. Detik-detik semakin dekat, saatnya malaikat Izrail melakukan tugasnya. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. “Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka. “Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. “Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal” kata Jibril. Sebentar kemudian terdengar Rasulullah mengaduh, karena sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat sekali maut ini, TIMPAKAN SAJA SEMUA SIKSA MAUT INI KEPADAKU, JANGAN PADA UMATKU” Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis-shalaati, wamaa malakat aimaanukum (peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu)”. Di luar, pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. “Ummatii, ummatii, ummatiii! (Umatku, umatku, umatku)”. Dan, berakhirlah hidup manusia yang paling mulia yang memberi sinaran itu. Menurut jumhur ulama sebagian Sakitnya Sakarotulmaut Seluruh umat Nabi Muhammad sudah dilimpahkan kepada Muhammad Betapa mendalam cinta Rasulullah kepada kita ummatnya, bahkan diakhir kehidupannya hanya kita yang ada dalam fikirannya. Sakitnya sakaratul maut itu tetapi sedikit sekali kita mengingatnya bahkan untuk sekedar menyebut Mengagungkan Pangilan Nabinya. Allahumma sholli 'alaa Muhammad wa 'ala ali Muhammad.... Mudah2an kita termasuk ummatnya yg nanti di hari kiamat akan mendapatkan syafaat baginda Rosulullah SAW. Aamiin.

Senin, 14 November 2016

TAHLILAN & YASINAN

JAWABAN BAGI PERTANYAAN KAUM WAHHABI SEPUTAR TAHLILAN 😂 Dalam keyakinan para ulama Aswaja, sumber hukum Islam itu ada 4: 1. Nash Alquran 2. Nash Hadits 3. Ijma' Ulama (khususnya para shahabat). 4. Qiyas. Jadi tidak semua amalan umat Islam, khususnya dalam bidang amalan Sunnah itu, harus ada dalil Qath'i dari Alquran atau Hadits (apalagi contoh langsung dari Nabi S.A.W). Karena Alquran dan Hadits juga sudah membuka lebar pintu Ijtihad bagi para ulama yg kompenten di bidangnya, hingga dapat dijadikan rujukan umat Islam. فاسألوا اهل الذكر ان كنتم لا تعلمون Tanyalah kepada ahi ilmu (ulama) jika kalian tidak memahaminya. العلماء ورثة الانبياء Ulama itu adalah pewaris para nabi Masih banyak dalil tentang bolehnya umat Islam mengikuti ijtihad para ulama. Tahlilan dengan cara "MENGISLAMKAN ADAT" termasuk dari hasil ijtihad serta qiyas yg dilakukan oleh para ulama jaman dahulu kala (Salaf). Ini juga termasuk mencontoh Nabi Muhammad SAW saat 'MENGISLAMKAN ADAT YAHUDI' yang selalu berpuasa pada hari Asyura (10 Muharram), namun dg dirobah menjadi puasa sunnah setiap tgl 9-10 atau 10-11 Muharram, lantas diqiyaskan dengan pelaksanaan Tahlilan. Bahkan Nabi S.A.W bersabda: اقرؤوا يس على موتاكم Bacakan surat Yasin untuk mayit kalian. Berikut cacatan tentang bolehnya berijtihad dengan syarat-syarat tertentu sesuai yang ditulis oleh KH. Luthfi Bashori sebagai berikut: BOLEH BERIJTIHAD ASALKAN... ! Luthfi Bashori Sy. Muadz bin Jabal RA mengisahkan, ketika Rasulullah SAW mengutusnya ke Yaman beiau SAW bertanya kepadanya, “Apa yang kamu lakukan jika dihadapkan kepadamu suatu masalah?” Sy. Muadz bin Jabal RA menjawab, “Aku pututskan dengan hukum yang ada di Al-Quran.” “Jika tidak ada hukumnya di dalam Al-Qur’an?” tanya Nabi SAW. Sy. Muadz katakan, “Aku putuskan berdasrkan Sunnah Rasulullah SAW.” Rasulullah SAW bertanya kembali, “Jika tidak hukum-Nya dalam As-sunnah?” “Aku akan berijtihad dengan pendapatku,” tegas Sy. Muadz bin Jabal Ra. Nabi Muhammad SAW menepuk dadanya. “Segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik kepada utusan Rasul-Nya, demi keridhaan Allah dan Rasulu-Nya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi, dan Al-Baihaqi) Menurut para ulama, tidak semua orang dibenarkan melakukan ijtihad. Seseorang yang melakukan ijtihad haruslah memiliki banyak persyaratan pokok, antara lain: 1. Memahami dengan sungguh-sungguh tafsir ayat-ayat Al-Quran dengan asbabun nuzulnya (yakni sebab-sebab turunnya Al-Quran), ayat-ayat nasikh dan mansukh (yang menghapuskan dan yang dihapus), dan gharaibul Quran. 2. Memahami hadits dan asbabul wurudnya (sebab-sebab munculnya hadits). Nasikh mansukhnya, serta delik ilmu musthalah haditsnya. 3. Menguasai bahasa Arab, baik grametikal maupun conversationnya dan seluruh cabang nahwu maupun dialegnya. 4. Mengetahui tempat-tempat hasil ijma’ para shahabat serta para ulama salaf ahli ijtihad sebelumnya. 5. Memahami ushul fiqih secara detil. 6. Memahami maksud-maksud syariat (maqashidus syariah) 7. Memahami masyarakat dan adat-istiadatnya sebagai obyek ijtihadnya. 8. Secara pribadi mempunyai sifat adil dan taqwa, menurut setandar para ulama. 9. Mengusai ilmu ushuluddin/ tauhid/ aqidah (salah satu cabang dari ilmu-ilmu keislaman yang membahas pokok-pokok keyakinan dalam Islam. 10. Memahami ilmu mantik (logika) yang rasional. 11. Meguasai cabang-cabang ilmu fiqih. 12. Dan sebagainya. Jika persyaratan di atas ini belum terpenuhi, maka haram bagi seseorang untuk berijtihad dalam urusan bersyariat, namun kewajibannya adalah bertaqlid mengikuti hasil ijtihad para ulama terdahulu, yang mana mereka telah menyusun kitab-kitab fiqh untuk memudahkan umat Islam yang belum mampu berijtihad dalam melaksakan kewajiban bersyariat. Adapun dewasa ini, hasil ijtihad para ulama Salaf yang diakui keabsahannya dan kevalidannya oleh dunia Islam itu ada pada empat madzhab: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Maka jika ada madzhab lain yang dimunculkan selain dari empat madzhab ini, maka dihukumi sebagai madzhab yang syadz atau menyimpang. Sedangkan para ulama yang hidup di jaman sekarang dan memenuhi syarat ijtidah, sekalipun belum sampai pada standar keilmuan para mujtahid mutlaq (setara Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafi`i dan Imam Ahmad bin Hanbal) jika mereka berijtihad terhadap suatu permasalahan keumatan yang sedang berkembang, maka dapat dibenarkan selagi tidak keluar dari koridor aturan dari salah satu empat madzhab di atas, maka hasil ijtihadnya itu dapat dicetuskan dalam bentuk fatwa. SEMOGA BERMANFAAT

DALIL TAHLILAN 7,40,100,1000 HARI

عن أحنف بن قيس: كنت أسمع عمر يقول لايدخل أحد من قريش في باب إلا دخل معه ناس فلا أدري ما تأويل قوله حتي طعن عمر فأمر صهيبا أن يصلى بالناس ثلاثا وأمر بأن يجعل للناس طعاماً فلما رجعوا من الجنازة جاءوا وقد وضعت الموائد فأمسك الناس عنها للحزن الذي همّ فيه فجاء العباس بن عبد المطلب فقال: ياأيها الناس قد مات رسول الله صلي الله عليه وسلم فأكلنا بعده وشربنا ومات أبوبكر فأكلنا بعده وشرaبنا أيها الناس كلوا من هذا الطعام فمد يده ومد الناس أيديهم فأكلوا فعرفت تأويل ذلك Dari Ahnaf Bin Qays: Saya pernah mendengar Umar RA berkata, "Tidak akan masuk seseorang dari kaum Quraisy ke dalam satu pintu kecuali orang-orang akan masuk bersamanya. Saya (Ahnaf) tidak mengerti apa maksud ucapan Umar RA tersebut, sampai suatu hari Umar ditikam (yg mengakibatkan beliau wafat). Lalu Umar memerintahkan Shuhaib untuk memimpin orang2 shalat berjamaah selama 3 hari, dan memerintahkan untuk dihidangkan makanan bagi orang2 (yang datang menjenguknya). Maka ketika orang2 telah kembali dari (menguburkan) jenazah Umar RA, mereka datang (kembali ke rumah Umar) dan makanan telah dihidangkan. Lantas orang2 menahan diri (dari menyantap hidangan) karena kesedihan yg sedang menimpa mereka. (melihat orang2 tidak menyantap makanan yg telah disediakan), Maka Abbas bin Abdul Muthalib datang seraya berkata, “Wahai manusia, telah wafat Rasulullah SAW dan kita makan dan minum (di rumah Rasulullah SAW) setelah wafatnya. Dan telah wafat Abu Bakar RA dan kita (juga) telah makan dan minum setelah wafatnya (di rumah Abu Bakar). Wahai manusia, makanlah makanan-makanan (yg telah disediakan) ini. Lalu Abbas mengulurkan tangannya dan orang2 (dari para sahabat Nabi) juga mengulurkan tangan mereka, lalu mereka makan. (Ahnaf berkata:) Maka, barulah aku mengerti apa maksud ucapan Umar itu. [BTerdapat dalam kitab: Al Fawaidussyahiir li Abi Bakar Assyafii juz 1 hal 288, Kanzul ummaal fii sunanil aqwaal wal af’al Juz 13 hal 309, Thabaqat Al Kubra li Ibn Sa’d Juz 4 hal 29, Tarikh Dimasyq juz 26 hal 373, Al Makrifah wattaarikh Juz 1 hal 110] فَائِدَة رَوَى أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلَ فِي الزُّهْدِ وَأَبُوْ نُعَيْمٍ فِي الْحِلْيَةِ عَنْ طَاوُسٍ أَنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعِمُوْا عَنْهُمْ تِلْكَ اْلأَيَّامِ إِسْنَادُهُ صَحِيْح وَلَهُ حُكْمُ الرَّفْعِ (الديباج على مسلم بن الحجاج للحافظ جلال الدين السيوطي 2 / 490) “Imam Ahmad meriwayatkan dalam kitab Zuhud dan Abu Nuaim dalam al-Hilyah dari Thawus bahwa ‘sesungguhnya orang-orang yang mati mendapatkan ujian di kubur mereka selama 7 hari. Maka para sahabat senang untuk memberi sedekah pada 7 hari tersebut’. Sanad riwayat ini sahih dan berstatus hadis marfu’.” (al-Dibaj Syarah sahih Muslim II/490) Menjadi penting untuk diperhatikan bahwa atsar tersebut diriwayatkan oleh banyak ulama Ahli Hadis: (المطالب العلية للحافظ ابن حجر 5 / 330 وحلية الأولياء لابي نعيم الاصبهاني ج 4 / 11 وصفة الصفوة لأبي الفرج عبد الرحمن بن علي بن محمد بن الجوزي 1 / 20 والبداية والنهاية لابن كثير 9 / 270 وشرح صحيح البخارى لابن بطال 3 / 271 وعمدة القاري شرح صحيح البخارى للعيني 12 / 277) (Ibnu Hajar dalam al-Mathalib al-Aliyah V/330, Abu Nuaim dalam Hilyat al-Auliya’ IV/11, Ibnu al-Jauzi dalam Shifat al-Shafwah I/20, Ibnu Katsir (murid Ibnu Taimiyah, ahli Tafsir) dalam al-Bidayah wa al-Nihayah IX/270, Ibnu Baththal dalam Syarah al-Bukhari III/271 dan al-Aini dalam Umdat al-Q DALIL TAHLILAN 7 HARI & 40 HARI 2 Riwayat Kedua وَذَكَرَ ابْنُ جُرَيْجٍ فِي مُصَنَّفِهِ عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عَمِيْرٍ أَنَّ الْمُؤْمِنَ يُفْتَنُ سَبْعًا وَالْمُنَافِقَ أَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا وَسَنَدُهُ صَحِيْح أَيْضًا (الديباج على مسلم بن الحجاج للحافظ جلال الدين السيوطي 2 / 490) “Ibnu Juraij menyebutkan dalam kitab al-Mushannaf dari Ubaid bin Amir bahwa ‘orang mukmin mendapatkan ujian (di kubur) selama 7 hari, dan orang munafik selama 40 hari’. Sanadnya juga sahih.” (al-Dibaj Syarah sahih Muslim II/490) Siapakah Ubaid diatas? Al-Hafidz as-Suyuthi menjelaskan: قَالَ مُسْلِمُ بْنُ الْحَجَّاجِ صَاحِبُ الصَّحِيْحِ إِنَّهُ وُلِدَ فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ غَيْرُهُ أَنَّهُ رَأَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَلَى هَذَا يَكُوْنُ صَحَابِيًّا (الحاوي للفتاوي للسيوطي – ج 3 / ص 267) “Muslim bin Hajjaj pengarang kitab Sahih berkata bahwa Ubaid bin Umair dilahirkan di masa Nabi Saw. Yang lain berkata bahwa Ubaid melihat Rasulullah Saw. Dengan demikian Ubaid adalah seorang sahabat” (al-Hawi li al-Fatawi 3/267) Riwayat Ketiga وَقَدْ رُوِىَ عَنْ مُجَاهِدٍ أَنَّ الْمَوْتَى كَانُوْا يُفْتَنُوْنَ فِي قُبُوْرِهِمْ سَبْعًا فَكَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْهُمْ تِلْكَ اْلاَيَّامَ (أهوال القبور – ج 1 / ص 19) “Sungguh telah diriwayatkan dari Mujahid bahwa sesungguhnya orang-orang yang mati mendapatkan ujian di kubur mereka selama 7 hari. Maka para sahabat senang untuk memberi sedekah pada 7 hari tersebut” (al-Hafidz Ibnu Rajab al-Hanbali, Ahwal al-Qubur 1/19) Fatwa Madzhab Syafii Riwayat Atsar diatas telah dikaji oleh ulama Madzhab Syafii yang bernama Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami, beliau menilai sahih dan menfatwakannya. Berikut fatwa beliau: ( وَسُئِلَ ) فَسَّحَ اللَّهُ فِي مُدَّتِهِ بِمَا لَفْظُهُ مَا قِيلَ إنَّ الْمَوْتَى يُفْتَنُونَ فِي قُبُورِهِمْ أَيْ يُسْأَلُونَ كَمَا أَطْبَقَ عَلَيْهِ الْعُلَمَاءُ سَبْعَةَ أَيَّامٍ هَلْ لَهُ أَصْلٌ ؟ ( فَأَجَابَ ) بِقَوْلِهِ نَعَمْ لَهُ أَصْلٌ أَصِيلٌ فَقَدْ أَخْرَجَهُ جَمَاعَةٌ عَنْ طَاوُسِ بِالسَّنَدِ الصَّحِيحِ وَعُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ بِسَنَدٍ احْتَجَّ بِهِ ابْنُ عَبْدِ الْبَرِّ وَهُوَ أَكْبَرُ مِنْ طَاوُسِ فِي التَّابِعِينَ بَلْ قِيلَ إنَّهُ صَحَابِيٌّ لِأَنَّهُ وُلِدَ فِي زَمَنِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَكَانَ بَعْضُ زَمَنِ عُمَرَ بِمَكَّةَ وَمُجَاهِدٍ وَحُكْمُ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ الثَّلَاثِ حُكْمُ الْمَرَاسِيلِ الْمَرْفُوعَةِ لِأَنَّ مَا لَا يُقَالُ مِنْ جِهَةِ الرَّأْيِ إذَا جَاءَ عَنْ تَابِعِيٍّ يَكُونُ فِي حُكْمِ الْمُرْسَلِ الْمَرْفُوعِ إلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَمَا بَيَّنَهُ أَئِمَّةُ الْحَدِيثِ وَالْمُرْسَلُ حُجَّةٌ عِنْدَ الْأَئِمَّةِ الثَّلَاثَةِ وَكَذَا عِنْدَنَا إذَا اعْتَضَدَ وَقَدْ اعْتَضَدَ مُرْسَلُ طَاوُسِ بِالْمُرْسَلَيْنِ الْآخَرَيْنِ بَلْ إذَا قُلْنَا بِثُبُوتِ صُحْبَةِ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ كَانَ مُتَّصِلًا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَبِقَوْلِهِ الْآتِي عَنْ الصَّحَابَةِ كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ إلَخْ لِمَا يَأْتِي أَنَّ حُكْمَهُ حُكْمُ الْمَرْفُوعِ عَلَى الْخِلَافِ فِيهِ وَفِي بَعْضِ تِلْكَ الرِّوَايَاتِ زِيَادَةُ إنَّ الْمُنَافِقَ يُفْتَنُ أَرْبَعِينَ صَبَاحًا وَمِنْ ثَمَّ صَحَّ عَنْ طَاوُسِ أَيْضًا أَنَّهُمْ كَانُوا يَسْتَحِبُّونَ أَنْ يُطْعَمَ عَنْ الْمَيِّتِ تِلْكَ الْأَيَّامَ وَهَذَا مِنْ بَابِ قَوْلِ التَّابِعِيِّ كَانُوا يَفْعَلُونَ وَفِيهِ قَوْلَانِ لِأَهْلِ الْحَدِيثِ وَالْأُصُولِ : أَحَدُهُمَا أَنَّهُ أَيْضًا مِنْ بَابِ الْمَرْفُوعِ وَأَنَّ مَعْنَاهُ كَانَ النَّاسُ يَفْعَلُونَ ذَلِكَ فِي عَهْدِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَعْلَمُ بِهِ وَيُقِرُّ عَلَيْهِ وَالثَّانِي أَنَّهُ مِنْ بَابِ الْعَزْوِ إلَى الصَّحَابَةِ دُونَ انْتِهَائِهِ إلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى هَذَا قِيلَ إنَّهُ إخْبَارٌ عَنْ جَمِيعِ الصَّحَابَةِ فَيَكُونُ نَقْلًا لِلْإِجْمَاعِ وَقِيلَ عَنْ بَعْضِهِمْ وَرَجَّحَهُ النَّوَوِيُّ فِي شَرْحِ مُسْلِمٍ وَقَالَ الرَّافِعِيُّ مِثْلُ هَذَا اللَّفْظِ يُرَادُ بِهِ أَنَّهُ كَانَ مَشْهُورًا فِي ذَلِكَ الْعَهْدِ مِنْ غَيْرِ نَكِيرٍ ثُمَّ مَا ذُكِرَ فِي السُّؤَالِ عَنْ الْعُلَمَاءِ DALIL TAHLIL 7 HARI & 40 HARI 3 مِنْ أَنَّ الْمُرَادَ بِالْفِتْنَةِ سُؤَالُ الْمَلَكَيْنِ صَحِيحٌ . فَإِنْ قُلْت لِمَ كَرَّرَ الْإِطْعَامَ سَبْعَةَ أَيَّامٍ دُونَ التَّلْقِينِ قُلْت لِأَنَّ مَصْلَحَةَ الْإِطْعَامِ مُتَعَدِّيَةٌ وَفَائِدَتُهُ لِلْمَيِّتِ أَعْلَى إذْ الْإِطْعَامُ عَنْ الْمَيِّتِ صَدَقَةٌ وَهِيَ تُسَنُّ عَنْهُ إجْمَاعًا وَالتَّلْقِينُ أَكْثَرُ الْعُلَمَاءِ عَلَى أَنَّهُ بِدْعَةٌ وَإِنْ كَانَ الْأَصَحُّ عِنْدَنَا خِلَافَهُ لِمَجِيءِ الْحَدِيثِ بِهِ وَالضَّعِيفُ يُعْمَلُ بِهِ فِي الْفَضَائِلِ . (الفتاوى الفقهية الكبرى – ج 3 / ص 193) “Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami ditanya, semoga Allah melapangkannya semasa hidupnya, dengan sebuah pertanyaan bahwa: Orang-orang yang mati mendapat ujian di alam kuburnya, yaitu mereka ditanya sebagaimana dikatakan oleh para ulama, selama 7 hari. Apakah hal tersebut memiliki dasar? Syaikh Ibnu Hajar al-Haitami menjawab: “Ya, hal itu memiliki dasar yang kuat. Sebab segolongan ulama telah meriwayatkan dari Thawus dengan sanad yang sahih dan Ubaid bin Umair dengan sanda yang dijadikan hujjah oleh Ibnu Abdil Barr, Ubaid lebih senior daripada Thawus dalam Tabiin, bahkan dikatakan bahwa Ubaid adalah sahabat, karena Ubaid dilahirkan di masa Nabi Saw dan di sebagian masa Umar di Makkah, dan riwayat dari Mujahid. Hukum ketiga riwayat (Thawus, Ubaid bin Umair dan Mujahid) tersebut adalah Mursal yang disandarkan pada Rasulullah Saw. Sebab jika ada sesuatu yang bukan berdasarkan pendapat jika disampaikan oleh seorang Tabiin maka berstatus hukum Mursal yang disandarkan pada Rasulullah Saw, seperti yang disampaikan oleh para imam di bidang hadis. Sedangkan riwayat Mursal adalah hujjah menurut 3 imam (Hanafi, Maliki dan Hanbali), juga menurut kita (Syafiiyah) jika dikuatkan riwayat lain. Dan sungguh riwayat Thawus ini dikuatkan oleh 2 riwayat mursal lainnya (Ubaid bin Umair dan Mujahid). Bahkan jika kita berpendapat dengan keabsahan status sahabat Ubaid bin Umair maka riwayat tersebut bersambung kepada Rasulullah Saw, dan dengan perkataannya berikut dari sahabat: “Mereka senang….” Disebabkan bahwa hukum riwayat tersebut adalah Marfu’, dengan terdapat perbedaan di dalamnya. Dalam sebagian riwayat ada tambahan “Orang munafiq diuji selama 40 pagi hari”. Oleh karena itu telah sah dari Thawus pula bahwa mereka menganjurkan memberi sedekah makanan dari mayit selama 7 hari tersebut. Ini adalah ucapan seorang Tabiin “Mereka melakukan”, di dalamnya ada 2 pendapat menurut ahli hadis dan Ushul Fikh: Pertama sebagai riwayat Marfu’ yang disandarkan pada Rasulullah Saw. Maksudnya para sahabat melakukan hal itu di masa Rasulullah Saw, Nabi mengetahuinya dan menyetujuinya. Kedua, dinisbatkan pada sahabat, tidak sampai hingga Rasulullah Saw. Menurut pendapat kedua ini maka yang disampaikan Thawus adalah informasi dari semua sahabat. Maka Thawus mengutip Ijma’ para sahabat. Ada yang mengatakan dari sebagian sahabat, seperti dikuatkan oleh an-Nawawi dalam Syarah Muslim. Ar-Rafii berkata: Riwayat seperti ini sudah popular di masa itu tanpa pengingkaran. Kemudian apa yang disebut dalam ujian dari para ulama, yang dimaksud dengan soal adalah pertanyaan malaikat, adalah sahih…. Jika ada yang mengatakan mengapa yang diulang-ulang adalah sedekah makanan 7 hari bukan Talqin? Saya menjawab: Sebab kemaslahatan memberi sedekah makanan berdampak lebih luas, dan manfaatnya bagi mayit lebih tinggi. Sebab memberi makan untuk mayit adalah sedekah, dan sedekah atas nama mayit adalah sunah, sesuai ijma’ ulama. Sedangkan Talqin menurut kebanyakan ulama adalah bid’ah, meski pendapat yang lebih kuat menurut kita (Syafiiyah) bukan bid’ah, karena berdasarkan hadis, dan hadis dlaif boleh diamalkan dalam keutamaan amal” (Fatawa al-Kubra al-Fiqhiyyah 3/193) SUNNAH YANG TELAH LAMA Satu hal yang tak dapat dibantah adalah, amaliyah tersebut masih terus berlangsung, diamalkan oleh umat Islam di Makkah dan Madinah hingga masa al-Hafidz as-Suyuthi di abad 10: DALIL TAHLIL 7 HARI & 40 HARI 4 إِنَّ سُنَّةَ اْلإطْعَامِ سَبْعَةَ أَيَّامٍ بَلَغَنِي أَنَّهَا مُسْتَمِرَّة إلَى اْلآنَ بِمَكَّةَ وَالْمَدِيْنَةِ فَالظَّاهِرُ أَنَّهَا لَمْ تُتْرَكْ مِنْ عَهْدِ الصَّحَابَةِ إِلَى اْلآنَ وَإِنَّهُمْ أَخَذُوْهَا خَلَفًا عَنْ سَلَفٍ إلَى الصَّدْرِ اْلأَوَّلِ (الحاوي للفتاوي للسيوطي – ج 3 / ص 288) Al-Hafidz As-Suyuthi berkata: “Anjuran memberi makanan 7 hari, telah sampai kepada saya bahwa hal itu berlangsung hingga sekarang di Makah dan Madinah. Secara Dzahir hal itu tidak pernah ditinggalkan sejak masa sahabat hingga sekarang, dan mereka meneruskannya secara turun temurun dari masa Awal” (al-Haawii 3/288) Atsar dari Jarir Orang-orang yg menolak tahlilan menggunakan Atsar Jarir sebagai bantahan untuk melarang kumpul-kumpul di rumah duka yg berbunyi: عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِي قاَلَ كُنَّا نَعُدُّ اْلاِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيْعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ (رواه أحمد رقم 6866 وابن ماجه رقم 1612) “Diriwayatkan dari Jarir bin Abdullah al-Bajali, ia berkata: Kami menganggap berkumpul di rumah orang yang meninggal dan membuatkan makanan setelah pemakaman sebagai perbuatan meratapi mayat” (Diriwayatkan oleh Ahmad No 6766 dan Ibnu Majah No 1612) Ternyata seorang Mufti bermadzhab Hanbali, Syaikh Khalid bin Abdillah al-Mushlih, mengutip penilaian dlaif dari Imam Ahmad sendiri: وَقَدْ نَقَلَ أَبُوْ دَاوُدَ عَنْ أَحْمَدَ قَوْلَهُ لاَ أَرَى لِهَذَا الْحَدِيْثِ أَصْلاً فَهُوَ حَدِيْثٌ ضَعِيْفٌ لاَ يَصْلُحُ لِلْاِحْتِجَاجِ. وَعَلَى الْقَوْلِ بِصِحَّتِهِ فَهُوَ مَحْمُوْلٌ عَلَى مَجْمُوْعِ الصُّوْرَةِ لاَ عَلَى مُجَرَّدِ اْلاِجْتِمَاعِ وَبِهَذَا قَالَ بَعْضُ أَهْلِ الْعِلْمِ وَالَّذِي يَظْهَرُ لِي أَنَّهُ إِنْ خَلاَ الْجُلُوْسُ مِنَ اْلإِضَافَاتِ الْبِدْعِيَّةِ فَإِنَّهُ لاَ بَأْسَ بِهِ لاَسِيَّمَا إِذَا كَانَ لاَ يَتَأَتَّى لِلنَّاسِ التَّعْزِيَّةُ إِلاَ بِذَلِكَ وَاللهُ أَعْلَمُ (أكثر من 100 فتوى للشيخ خالد بن عبد الله المصلح 1 / 35) “Abu Dawud sungguh telah mengutip dari Ahmad: Saya tidak menemukan dasar dalam riwayat ini. Maka ini adalah riwayat yang dlaif yang tidak layak dijadikan hujjah. Dan berdasarkan pada pendapat yang menilainya sahih, maka diarahkan pada seluruh bentuk, tidak pada bentuk berkumpulnya saja, inilah yang dikemukakan oleh sebagian ulama. Menurut saya, bila berkumpul tersebut tidak ada unsur-unsur yang mengandung bid’ah, maka tidak apa-apa. Apalagi jika orang lain tidak mau takziyah kecuali dengan cara seperti itu” (Fatwa Syaikh Khalid bin Abdullah al-Mushlih I/35) Penilaian yang sama juga disampaikan oleh Syaikh al-Tharifi: وَلِهَذَا تَجِدُ اَنَّ اْلاِمَامَ اَحْمَدَ اَخْرَجَ اَحَادِيْثَ فِي مُسْنَدِهِ وَمَعَ هَذَا يَعُلُّهَا بَلْ مِنْهَا مَا يُنْكِرُهُ وَاْلاَمْثِلَةُ عَلَى هَذَا كَثِيْرَةٌ جِدًّا … وَمِنْهَا مَا أَخْرَجَهُ فِي مُسْنَدِهِ مِنْ حَدِيْثِ إِسْمَاعِيْلِ عَنْ قَيْسٍ عَنْ جَرِيْرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ الْبَجَلِي قَالَ كُنَّا نَعُدُّ اْلاِجْتِمَاعَ إِلَى أَهْلِ الْمَيِّتِ وَصَنِيْعَةَ الطَّعَامِ بَعْدَ دَفْنِهِ مِنَ النِّيَاحَةِ. وَقَدْ نَقَلَ اَبُوْ دَاوُدَ عَنِ اْلاِمَامِ اَحْمَدَ قَوْلَهُ فِيْهِ : لاَ اَصْلَ لَهُ (شرح كتاب الطهارة من بلوغ المرام للطريفي 1 / 42) “Oleh karena itu anda akan menemukan Imam Ahmad meriwayatkan beberapa hadis dalam Musnadnya yang beliau sendiri menilainya cacat, bahkan sebagiannya menilainya munkar. Contohnya sangat banyak…. Diantaranya adalah ‘riwayat dari Jarir bin Abdullah al-Bajali, ia berkata: Kami menganggap berkumpul di rumah orang yang meninggal dan membuatkan makanan setelah pemakaman sebagai perbuatan meratapi mayat’. Abu Dawud sungguh telah mengutip penilaian dari Imam Ahmad mengenai riwayat tersebut: Riwayat ini tidak ada dasarnya!” (al-Tharifi dalam Syarah Bulugh al-Maram I/42) Hal ini juga diakui oleh ulama Wahabi, Sulaiman bin Nashir al-’Alwan: وَلَكِنْ أَعَلَّ اْلإِمَامُ أَحْمَدُ هَذَا اْلأَثَرَ (شرح كتاب الجنائز من البلوغ للشيخ سليمان بن ناصر العلوان 1 / 105) “Akan tetapi Imam Ahmad menilai cacat pada atsar ini” (Syarah Bulughshram I/105) DALIL TAHLIL 7 HARI & 40 HARI 5 Meratapi Mayit Menurut Sayidina Umar Ustadz Wahabi ada yang menjadikan Atsar Sayidina Umar di bawah ini sebagai larangan berkumpul-kumpul di rumah duka dengan memberikan makanan: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ، عَنْ طَلْحَةَ، قَالَ: قَدِمَ جَرِيرٌ عَلَى عُمَرَ، فَقَالَ: ” هَلْ يُنَاحُ قِبَلُكُمْ عَلَى الْمَيِّتِ ؟ قَالَ: لَا ” قَالَ: ” فَهَلْ تَجْتَمِعُ النِّسَاءُ عندَكُمْ عَلَى الْمَيِّتِ وَيُطْعَمُ الطَّعَامُ؟ قَالَ: نَعَمْ “، فَقَالَ: ” تِلْكَ النِّيَاحَةُ “ Telah menceritakan kepada kami Wakii’, dari Maalik bin Mighwal, dari Thalhah, ia berkata : Jarir mendatangi ‘Umar, lalu ia (‘Umar) berkata : “Apakah kamu sekalian suka meratapi mayit ?”. Jarir menjawab : “Tidak”. ‘Umar berkata : “Apakah diantara wanita-wanita kalian semua suka berkumpul di rumah keluarga mayit dan makan hidangannya ?”. Jarir menjawab : “Ya”. ‘Umar berkata : “Hal itu sama dengan niyahah (meratapi mayit)” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah 2/487]. Dalam riwayat yang sahih, Niyahah (meratapi mayit) yang dilarang menurut Sayidina Umar adalah sebagai berikut: 33 – باب مَا يُكْرَهُ مِنَ النِّيَاحَةِ عَلَى الْمَيِّتِ . ( 33 ) وَقَالَ عُمَرُ – رضى الله عنه – دَعْهُنَّ يَبْكِينَ عَلَى أَبِى سُلَيْمَانَ مَا لَمْ يَكُنْ نَقْعٌ أَوْ لَقْلَقَةٌ . وَالنَّقْعُ التُّرَابُ عَلَى الرَّأْسِ ، وَاللَّقْلَقَةُ الصَّوْتُ . (صحيح البخارى – ج 5 / ص 163) “Bab yang dimakruhkan, yakni meratapi mayit; Umar berkata: Biarkan wanita-wanita itu menangisi Abu Sulaiman selama tidak ada melumuri kepala dengan tanah atau suara” (Riwayat al-Bukhari 5/163) Riwayat ini disampaikan oleh Imam al-Bukhari secara Mu’allaq, namun al-Hafidz Ibnu Hajar mencantumkan sanadnya seperti yang dicantumkan oleh al-Bukhari dalam Tarikh al-Ausathnya: قَوْله : ( وَقَالَ عُمَر : دَعْهُنَّ يَبْكِينَ عَلَى أَبِي سُلَيْمَان إِلَخْ ) هَذَا الْأَثَر وَصَلَهُ الْمُصَنِّف فِي التَّارِيخ الْأَوْسَط مِنْ طَرِيق الْأَعْمَش عَنْ شَقِيق قَالَ : لَمَّا مَاتَ خَالِد بْن الْوَلِيد اِجْتَمَعَ نِسْوَة بَنِي الْمُغِيرَة – أَيْ اِبْن عَبْد اللَّه بْن عَمْرو بْن مَخْزُوم – وَهُنَّ بَنَات عَمّ خَالِد بْن الْوَلِيد بْن الْمُغِيرَة يَبْكِينَ عَلَيْهِ ، فَقِيلَ لِعُمَر : أَرْسِلْ إِلَيْهِنَّ فَانْهَهُنَّ ، فَذَكَرَهُ . وَأَخْرَجَهُ اِبْن سَعْد عَنْ وَكِيع وَغَيْر وَاحِد عَنْ الْأَعْمَش . (فتح الباري لابن حجر – ج 4 / ص 333) Imam Syafii Mengharamkan Kumpul-Kumpul di Rumah Duka? Terkait dengan perkataan Imam Syafii: “Saya tidak senang dengan Ma’tam (berkumpul di rumah duka)”, maka sebagian ustadz Wahabi mengatakan bahwa hal itu adalah Makruh Tahrim! Entah dari mana jalan bagi mereka yang tidak bermadzhab (Madzhab Wahabi) kemudian sesuka hati berkomentar tentang madzhab Syafii. Tuduhan ini bertentangan dengan pendapat mayoritas ulama Syafiiyah, imam an-Nawawi berkata: وَأَمَّا قَوْلُ الشَّافِعِي رَحِمَهُ اللهُ فِي اْلاُمِّ وَاَكْرَهُ الْمَآْتَمَ وَهِىَ الْجَمَاعَةُ وَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُمْ بُكَاءٌ فَمُرَادُهُ الْجُلُوْسُ للِتَّعْزِيَةِ وَقَدْ سَبَقَ بَيَانُهُ. (المجموع – ج 5 / ص 308) “Adapun perkataan Syafii rahimahullah di dalam al-Umm “Saya tidak senang dengan Ma’tam (berkumpul di rumah duka) meski tidak ada tangisan”, maksudnya adalah duduk-duduk untuk Takziyah, sebagaimana telah dijelaskan” (al-Majmu’ 5/308) Penjelasan imam an-Nawawi dan ulama Syafiiyah lainnya menghukumi makruh, bukan makruh tahrim apalagi sampai haram: وَاَمَّا الْجُلُوْسُ لِلتَّعْزِيَةِ فَنَصَّ الشَّافِعِي وَالْمُصَنِّفُ وَسَائِرُ اْلاَصْحَابِ عَلَي كَرَاهَتِهِ (المجموع – ج 5 / ص 306) “Adapun duduk-duduk untuk takziyah, maka Syafii, asy-Syairazi dan ulama Syafiiyah lainnya menjelaskan kemakruhannya” (al-Majmu’ 5/306) Jika mereka masih bersikeras mengapa masih mengamalkan yang makruh? Cukup dijawab: ”Makkah dan Madinah yang saat ini banyak ulama Wahabinya saja membiarkan masjid al-Haram dan Masjid an-Nabawi dibangun dengan begitu megahnya dan indahnya, namun ulama Wahabi tidak ada yang ingkar!” DALIL TAHLIL 7 HARI & 40 HARI 6 Syaikh Ibnu Abdissalam berkata: وَلِلْبِدَعِ الْمَكْرُوهَةِ أَمْثِلَةٌ مِنْهَا : زَخْرَفَةُ الْمَسَاجِدِ (قواعد الأحكام في مصالح الأنام – ج 2 / ص 383) “Diantara bid’ah yang makruh adalah kemegahan masjid” (Qawaid al-Ahkam 2/383) Fatwa Syaikh asy-Syaukani Hasil Bahtsul Masail Forum Musyawarah Pondok Pesantren (FMPP) se Jawa – Madura Di Pon. Pes. Syaikhona Kholil Bangkalan Madura, 06 – 07 Agustus 2003 M, yang memutuskan: الْعَادَةُ الْجَارِيَةُ فِي بَعْضِ الْبُلْدَانِ مِنَ اْلاِجْتِمَاعِ فِي الْمَسْجِدِ لِتِلاَوَةِ الْقُرْآنِ عَلَى اْلأَمْوَاتِ وَكَذَلِكَ فِي الْبُيُوْتِ وَسَائِرِ اْلاِجْتِمَاعَاتِ الَّتِي لَمْ تَرِدْ فِي الشَّرِيْعَةِ لاَ شَكَّ إِنْ كَانَتْ خَالِيَةُ عَنْ مَعْصِيَةٍ سَالِمَةً مِنَ الْمُنْكَرَاتِ فَهِيَ جَائِزَةٌ ِلأَنَّ اْلاِجْتِمَاعَ لَيْسَ بِمُحَرَّمٍ بِنَفْسِهِ لاَ سِيَّمَا إِذَا كَانَ لِتَحْصِيْلِ طَاعَةٍ كَالتِّلاَوَةِ وَنَحْوِهَا وَلاَ يُقْدَحُ فِي َذَلِكَ كَوْنُ تِلْكَ التِّلاَوَةِ مَجْعُوْلَةً لِلْمَيِّتِ فَقَدْ وَرَدَ جِنْسُ التِّلاَوَةِ مِنَ الْجَمَاعَةِ الْمُجْتَمِعِيْنَ كَمَا فِي حَدِيْثِ اقْرَأُوْا يس عَلَى مَوْتَاكُمْ وَهُوَ حَدِيْثٌ صَحِيْحٌ وَلاَ فَرْقَ بَيْنَ تِلاَوَةِ يس مِنَ الْجَمَاعَةِ الْحَاضِرِيْنَ عِنْدَ الْمَيِّتِ أَوْ عَلَى قَبْرِهِ وَبَيْنَ تِلاَوَةِ جَمِيْعِ الْقُرْآنِ أَوْ بَعْضِهِ لِمَيِّتٍ فِي مَسْجِدِهِ أَوْ بَيْتِهِ اهـ (الرسائل السلفية للشيخ علي بن محمد الشوكاني ص : 46) “Tradisi yang berlaku di sebagian negara dengan berkumpul di masjid untuk membaca al-Quran dan dihadiahkan kepada orang-orang yang telah meninggal, begitu pula perkumpulan di rumah-rumah, maupun perkumpulan lainnya yang tidak ada dalam syariah, tidak diragukan lagi apabila perkumpulan tersebut tidak mengandung maksiat dan kemungkaran, hukumnya adalah boleh. Sebab pada dasarnya perkumpulannya sendiri tidak diharamkan, apalagi dilakukan untuk ibadah seperti membaca al-Quran dan sebagainya. Dan tidaklah dilarang menjadikan bacaan al-Quran itu untuk orang yang meninggal. Sebab membaca al-Quran secara berjamaah ada dasarnya seperti dalam hadis: Bacalah Yasin pada orang-orang yang meninggal. Ini adalah hadis sahih. Dan tidak ada bedanya antara membaca Yasin berjamaah di depan mayit atau di kuburannya, membaca seluruh al-Quran atau sebagiannya, untuk mayit di masjid atau di rumahnya” (Rasail al-Salafiyah, Syaikh Ali bin Muhammad as Syaukani, 46) Fatwa Ibnu Hajar al-Haitami Tradisi tahlilan dan memberi sedekah di hari-hari tertentu setelah ditelusuri sebenarnya tidak hanya menjadi kebiasaan umat Islam di Jawa. Jauh sebelum itu, yakni di masa Ibnu Hajar al-Haitami al-Syafi’i (1504-1567 M dan beliau memiliki banyak pengikut di wilayah Yaman) pernah ditanya mengenai hal diatas dan beliau memfatwakan bahwa perbuatan itu tidak diharamkam meskipun terbilang sesuatu yang baru. Bahkan dengan niat-niat tertentu pelakunya akan mendapatkan pahala. Berikut fatwa beliau: DALIL TAHLIL 7 HARI & 40 HARI 7 Fatwa Ibnu Hajar al-Haitami: (وَسُئِلَ) أَعَادَ اللهُ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِهِ … عَمَّا يُعْمَلُ يَوْمَ ثَالِثِ مَوْتِهِ مِنْ تَهْيِئَةِ أَكْلٍ وَإِطْعَامِهِ لِلْفُقَرَاءِ وَغَيْرِهِمْ وَعَمَّا يُعْمَلُ يَوْمَ السَّابِعِ كَذَلِكَ وَعَمَّا يُعْمَلُ يَوْمَ تَمَامِ الشَّهْرِ مِنَ الْكَعْكِ وَيُدَارُ بِهِ عَلَى بُيُوْتِ النِّسَاءِ اللاَّتِي حَضَرْنَ الْجِنَازَةَ وَلَمْ يَقْصِدُوْا بِذَلِكَ إلاَّ مُقْتَضَى عَادَةِ أَهْلِ الْبَلَدِ حَتَّى إنَّ مَنْ لَمْ يَفْعَلْ ذَلِكَ صَارَ مَمْقُوْتًا عِنْدَهُمْ خَسِيْسًا لاَ يَعْبَئُوْنَ بِهِ وَهَلْ إذَا قَصَدُوْا بِذَلِكَ الْعَادَةَ وَالتَّصَدُّقَ فِي غَيْرِ اْلأَخِيرَةِ أَوْ مُجَرَّدَ الْعَادَةِ مَاذَا يَكُوْنُ الْحُكْمُ جَوَازٌ وَغَيْرُهُ … وَعَنْ الْمَبِيْتِ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ إلَى مُضِيِّ شَهْرٍ مِنْ مَوْتِهِ ِلأَنَّ ذَلِكَ عِنْدَهُمْ كَالْفَرْضِ مَا حُكْمُهُ ؟ (فَأَجَابَ) بِقَوْلِهِ جَمِيْعُ ما يُفْعَلُ مِمَّا ذُكِرَ فِي السُّؤَالِ مِنَ الْبِدَعِ الْمَذْمُومَةِ لَكِنْ لاَ حُرْمَةَ فِيْهِ إلاَّ إنْ فُعِلَ شَيْءٌ مِنْهُ لِنَحْوِ نَائِحَةٍ أَوْ رِثَاءٍ وَمَنْ قَصَدَ بِفِعْلِ شَيْءٍ مِنْهُ دَفْعَ أَلْسِنَةِ الْجُهَّالِ وَخَوْضِهِمْ فِي عِرْضِهِ بِسَبَبِ التَّرْكِ يُرْجَى أَنْ يُكْتَبَ لَهُ ثَوَابُ ذَلِكَ أَخْذًا مِنْ أَمْرِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَحْدَثَ فِي الصَّلاَةِ بِوَضْعِ يَدِهِ عَلَى أَنْفِهِ وَعَلَّلُوْهُ بِصَوْنِ عِرْضِهِ عَنْ خَوْضِ النَّاسِ فِيْهِ لَوِ انْصَرَفَ عَلَى غَيْرِ هَذِهِ الْكَيْفِيَّةِ … وَإِذَا كَانَ فِي الْمَبِيْتِ عِنْدَ أَهْلِ الْمَيِّتِ تَسْلِيَةٌ لَهُمْ أَوْ جَبْرٌ لِخَوَاطِرِهِمْ لَمْ يَكُنْ بِهِ بَأْسٌ ِلأَنَّهُ مِنَ الصِّلاَتِ الْمَحْمُودَةِ الَّتِي رَغَّبَ الشَّارِعُ فِيْهَا وَالْكَلاَمُ في مَبِيْتٍ لاَ يَتَسَبَّبُ عَنْهُ مَكْرُوْهٌ وَلاَ مُحَرَّمٌ وَإِلاَّ أُعْطِيَ حُكْمَ مَا تَرَتَّبَ عَلَيْهِ إذْ لِلْوَسَائِلِ حُكْمُ الْمَقَاصِدِ وَاَللهُ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى أَعْلَمُ بِالصَّوَابِ (الفتاوى الفقهية الكبرى لابن حجر الهيتمي الشافعي 2 / 7) “(Ibnu Hajar al-Haitami) ditanya mengenai hal yang dilakukan pada hari ketiga setelah kematian dengan menghidangkan makanan orang-orang fakir dan lainnya, begitu pula pada hari ketujuh dan setelah sebulan. Mereka tidak melakukan hal ini kecuali untuk mengikuti tradisi penduduk setempat. Hingga jika ada diantara mereka ada yang tidak melakukannya, maka mereka kurang disenangi. Apakah jika mereka yang bertujuan melakukan tradisi dan sedekah, atau sekedar mengikuti tradisi, bagaimana tinjauan hukumnya, boleh atau tidak? Ibnu Hajar al-Haitami juga ditanya mengenai menginap di rumah duka hingga melewati masa satu bulan, sebab hal itu seperti kewajiban. Apa hukumnya? (Ibnu Hajar) menjawab: Semua yang terdapat dalam pertanyaan adalah bid’ah yang tercela tapi tidak haram. Kecuali bila dilakukan untuk meratapi mayit. Dan seseorang yang melakukannya bertujuan untuk menghindari ucapan orang-orang bodoh dan dapat merusak reputasinya jika meninggalkannya, maka ada harapan dia memperoleh pahala. Hal ini berdasarkan perintah Rasulullah Saw tentang seseorang yang hadats dalam salat untuk memegang hidung dengan tangannya. [HR Abdurrazzaq No 3606 dan al-Baihaqi No 3202. Al-Hafidz al-Bushiri berkata: “Sanad hadis ini perawinya adalah orang-orang terpercaya” (Ithaf al-Khiyarah II/72)]. Para ulama mengemukakan alasan untuk menjaga nama baiknya jika tidak melakukan cara seperti ini. Dan jika menginap di rumah duka bisa menghibur keluarganya dan bisa menentramkannya, maka tidak apa-apa bahkan ini bagian dari cara merajut hubungan yang terpuji, sebagaimana dianjurkan oleh syariat. Tema ini terkait menginap yang tidak menimulkan hal-hal makruh atau haram. Jika ini terjadi maka berlaku hukum sebaliknya, karena sebuah sarana memiliki hukum yang sama dengan tujuannya. Wallahu A’lam bi Shawab.” (al-Fatawa al-Fiqhiyyah al-Kubra, Ibnu Hajar al-Haitami, II/7) DALIL TAHLIL 7 HARI & 40 HARI 8 Fatwa Syaikh Muhammad Ali bin Husain al-Maliki Syaikh Muhammad Ali bin Husain al-Maliki, pengarang kitab Inarat al-Duja, memberi jawaban atas pertanyaan tentang kebiasaan di Jawa saat takziyah dan tahlil pada hari-hari tertentu, bahwa tradisi semacam itu bisa menjadi bid’ah yang diharamkan jika bertujuan untuk meratapi mayit, dan jika tidak bertujuan seperti itu dan tidak mengandung unsur haram lainnya, maka masuk kategori bid’ah yang diperbolehkan. Di akhir fatwa beliau berkata: اِعْلَمْ اَنَّ الْجَاوِيِّيْنَ غَالِبًا اِذَا مَاتَ اَحَدُهُمْ جَاؤُوْا اِلَى اَهْلِهِ بِنَحْوِ اْلاَرُزِّ نَيِّئًا ثُمَّ طَبَّخُوْهُ بَعْدَ التَّمْلِيْكِ وَقَدَّمُوْهُ لاَهْلِهِ وَلِلْحَاضِرِيْنَ عَمَلاً بِخَبَرِ “اصْنَعُوْا لاَلِ جَعْفَرٍ طَعَامًا” وَطَمَعًا فِي ثَوَابِ مَا فِي السُّؤَالِ بَلْ وَرَجَاءَ ثَوَابِ اْلاِطْعَامِ لِلْمَيِّتِ عَلَى اَنَّ اْلعَلاَّمَةَ الشَّرْقَاوِيَ قَالَ فِي شَرْحِ تَجْرِيْدِ الْبُخَارِي مَا نَصُّهُ وَالصَّحِيْحُ اَنَّ سُؤَالَ الْقَبْرِ مَرَّةٌ وَاحِدَةٌ وَقِيْلَ يُفْتَنُ الْمُؤْمِنُ سَبْعًا وَالْكَافِرُ اَرْبَعِيْنَ صَبَاحًا وَمِنْ ثَمَّ كَانُوْا يَسْتَحِبُّوْنَ اَنْ يُطْعَمَ عَنِ الْمُؤْمِنِ سَبْعَةَ اَيَّامٍ مِنْ دَفْنِهِ اهــ بِحُرُوْفِهِ (بلوغ الامنية بفتاوى النوازل العصرية مع انارة الدجى شرح نظم تنوير الحجا 215-219) “Ketahuilah, pada umumnya orang-orang Jawa jika diantara mereka ada yang meninggal, maka mereka datang pada keluarganya dengan membawa beras mentah, kemudian memasaknya setelah proses serah terima, dan dihidangkan untuk keluarga dan para pelayat, untuk mengamalkan hadis: ‘Buatkanlah makanan untuk keluarga Ja’far’ dan untuk mengharap pahala sebagaimana dalam pertanyaan (pahala tahlil untuk mayit), bahkan pahala sedekah untuk mayit. Hal ini berdasarkan pendapat Syaikh al-Syarqawi dalam syarah kitab Tajrid al-Bukhari yang berbunyi: Pendapat yang sahih bahwa pertanyaan dalam kubur hanya satu kali. Ada pendapat lain bahwa orang mukmin mendapat ujian di kuburnya selama 7 hari dan orang kafir selama 40 hari tiap pagi. Oleh karenanya para ulama terdahulu menganjurkan memberi makan untuk orang mukmin selama 7 hari setelah pemakaman” (Bulugh al-Amniyah dalam kitab Inarat al-Duja 215-219) Fatwa Syaikh al-Thahthawi al-Hanafi Seorang ulama dari kalangan Hanafiyah, Syaikh al-Thahthawi (1231 H), mengutip pendapat dari Syaikh Burhan al-Halabi yang membantah hukum makruh dalam selametan 7 hari: قَالَ فِي الْبَزَّازِيَّةِ يُكْرَهُ اِتِّخَاذُ الطَّعَامِ فِي اْليَوْمِ اْلأَوَّلِ وَالثَّالِثِ وَبَعْدَ اْلأُسْبُوْعِ وَنَقْلُ الطَّعَامِ إِلَى الْمَقْبَرَةِ فِي الْمَوَاسِمِ وَاتِّخَاذُ الدَّعْوَةِ بِقِرَاءَةِ الْقُرْآنِ وَجَمْعِ الصُّلَحَاءِ وَالْقُرَّاءِ لِلْخَتْمِ أَوْ لِقِرَاءَةِ سُوْرَةِ اْلأَنْعَامِ أَوِ اْلإِخْلاَصِ اهـ قَالَ الْبُرْهَانُ الْحَلَبِي وَلاَ يَخْلُوْ عَنْ نَظَرٍ ِلأَنَّهُ لاَ دَلِيْلَ عَلَى اْلكَرَاهَةِ (حاشية الطحطاوي على مراقي الفلاح شرح نور الإيضاح 1 / 409) “Disebutkan dalam kitab al-Bazzaziyah bahwa makruh hukumnya membuat makanan di hari pertama, ketiga dan setelah satu minggu, juga memindah makanan ke kuburan dalam musim-musim tertentu, dan membuat undangan untuk membaca al-Quran, mengumpulkan orang-orang sholeh, pembaca al-Quran untuk khataman atau membaca surat al-An’am dan al-Ikhlas. Burhan al-Halabi berkata: Masalah ini tidak lepas dari komentar, sebab tidak ada dalil untuk menghukuminya makruh. Burhan al-Halabi memperbolehkan hal tersebut. Ini menunjukkan bahwa di masa itu sudah ada tradisi mengundang ulama dan orang lain untuk membaca al-Quran yang dihadiahkan bagi para al-Marhum. (Hasyiyah al-Thahthawi I/409).

YASINAN

📖 Hadits Shahih Fadilah Surah Yaasiin مَنْ دَاوَمَ عَلَى قِرَاءَةِ يس كُلَّ لَيْلَةٍ ، ثُمَّ مَاتَ ، مَاتَ شَهِيْدًا “Siapa yang membiasakan membaca Yasin setiap malam, kemudian ia mati, maka ia mati dalam keadaan syahid” (HR. At-Thobroni/7217 dari Anas bin Malik) Komentar ulama tentangnya : Imam Ibnu Katsir berkata dalam tafsirnya tentang hadits ini, “Sanadnya bagus.” Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya “Nataijul fi Takhriji Ahaditsil Adzkar” berkata tentang hadits tersebut: “Ini adalah hadits hasan.” Imam Suyuthi mengatakan tentang hadits ini: “Ini adalah sanad yang sesuai standar shahih.” (Sumber : Kitab “Al-La’ali Al-Mashnu’ah”) حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي الْمَشْيَخَةُ أَنَّهُمْ حَضَرُوا غُضَيْفَ بْنَ الْحَارِثِ الثُّمَالِيَّ حِينَ اشْتَدَّ سَوْقُهُ فَقَالَ هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يَقْرَأُ يس قَالَ فَقَرَأَهَا صَالِحُ بْنُ شُرَيْحٍ السَّكُونِيُّ فَلَمَّا بَلَغَ أَرْبَعِينَ مِنْهَا قُبِضَ قَالَ فَكَانَ الْمَشْيَخَةُ يَقُولُونَ إِذَا قُرِئَتْ عِنْدَ الْمَيِّتِ خُفِّفَ عَنْهُ بِهَا قَالَ صَفْوَانُ وَقَرَأَهَا عِيسَى بْنُ الْمُعْتَمِرِ عِنْدَ ابْنِ مَعْبَدٍ “Telah menceritakan kepada kami, Abu Mughiroh, telah menceritakan kepada kami Sofwan, telah menceritakan kepadaku para guru sesungguhnya mereka menghadiri Ghudaif bin Al Harits Ats Tsumali ketika sekarat maka berkatalah : Siapa seorang diantara kalian yang mau membaca Yasin? -lalu Sofwan (periwayat hadits) berkata-: maka Soleh bin Syurekh As-Sakuni membaca surat Yasin tersebut, dan ketika bacaannya sampai ke-ayat 40, ternyata Ghudaif meninggal dunia. Sofwan berkata: Bahwasannya para guru mereka berkata, apabila dibacakan Yasin di sisi orang mati maka diringankan (pencabutan nyawa) darinya berkat bacaan Yasin tersebut. Berkata Sofwan : Dan Isa bin Mu’tamir telah membaca Yasin di sisi Ibnu Ma’bad” (HR. Ahmad/16355) Diriwayatkan dari Ma’qol bin Yasar, bahwa Nabi SAW bersabda: اِقْرَءُوْا عَلَى مَوْتاَكُمْ يس “Bacalah untuk orang mati di antara kamu, surat Yasin” (Hadits Shohih Riwayat Ibnu Hibban/3064, juga diriwayatkan oleh Abu Daud/2714, Ibnu Majah/1438, Ahmad/19416, 19427, Nasai/10913, Alhakim/2028, Aththobroni/16904, Albayhaqi/2356, 8930) Komentar ulama tentangnya : Hadits shahih menurut Ibnu Hibban (Bulughul Maram karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani). Imam Syaukani berkata dalam “Al-Fathur Rabbani” tentang hadits tersebut: “Disebutkannya nama surat tersebut hanya dikarenakan oleh adanya keutamaan dan kemuliaan yang lebih padanya.” Apakah itu mencakup orang yang hampir meninggal saja atau termasuk yang sudah meninggal? Dalam At-Taysiir, Al-Munawi berkata: “...dalam riwayat yang disebutkan Ibnul Qayyim: yang dimaksud “mautakum” adalah muslim yang akan meninggal dunia, karena mayyit tidak perlu lagi dibacakan.” Kemudian beliau mengatakan: “Atau bisa juga maksudnya adalah bacakanlah setelah kematiannya. Yang paling utama adalah DIGABUNGKAN.” Ibnul Qayyim ulama pentolan wahabi murid Syeikh Ibnu Taimiyah mengatakan, “Dikhususkannya Yasin karena di dalamnya terkandung ajaran tauhid, tempat kembali, berita gembira tentang surga untuk ahli tauhid dan kegembiraan orang yang meninggal di atas tauhid karena firman-Nya, “Seandainya kaumku mengetahui…” (At-Taysiir 1/390)

Minggu, 13 November 2016

ILMU

Ilmu adalah seluruh wahyu yg diturunkan oleh Allah SWT kepada Rasulullah SAW. Ilmu berbeda dgn pengetahuan, pengetahuan bisa berubah sesuai dgn suasana dan keadaan, tetapi ilmu tdk akan pernah berubah walaupun suasana dan keadaan berubah. Pengetahuan adalah seni; seni kedokteran, seni pertanian, seni perdagangan dsb. Abdullah bin umar ra berkata, Rasulullah SAW bersabda, Ilmu ada tiga, selain dari ketiga itu adalah tambahan, yaitu; 1. ayat ayat muhkamat (ayat al Qur'an yg telah jelas ketetapannya) 2. sunnah yg tegak (hadits Nabi SAW yg tsabit dgn sanad yg shahih), 3. kewajiban yg tegak (hukum-hukum yg berasal dari al Quran dan hadits, berupa ijtihad, ijma' atau qiyas). (Hr. Abu Dawud, Ibnu Majah dan Hakim- Kanzul Ummal) Manfaat ilmu yg paling utama adalah menimbulkan kemampuan utk melihat kebaikan org lain. Apabila seseorang mengukur org lain dgn ilmunya, berarti dia masih memiliki sifat sombong dan ilmu yg diperolehnya sia-sia. Niat menuntut ilmu utk memperbaiki amal diri sendiri, bukan utk memperbaiki amal org lain. Semakin pandai seseorang, merasa semakin bodoh dan merasa banyak yg tdk diketahuinya. Rasulullah SAW bersabda, Barangsiapa yg berkata, sesungguhnya aku org yg berilmu, maka dia adalah org yg jahil. (Hr. Thabrani) Ilmu yg mendatangkan rasa takut dan harap hanya kepada Allah SWT. Tanpa rasa takut kepada Allah SWT, seseorang tdk akan taat kepada-Nya. Firman Allah; Sesungguhnya Yang takut kepada Allah diantara hamba-hambaNya, hanyalah ulama. (Qs. Faathir: 28) Yg dimaksud dgn rasa takut adalah mengamalkan ilmu yg dianugrahkan oleh Allah SWT utk memperhambakan diri hanya kepadaNya sebagai ciri-ciri org berilmu. Bersedia semua menuntut ilmu. Insya Allah...........

AMALAN YANG PALING UTAMA DI MALAM DAN HARI JUM'AT

Menurut Syekh Yusuf An Nabhani, tiada amalan sunnah yg lebih utama untuk diamalkan di malam dan hari Jum'at selain membaca sholawat dan membaca Surat Al Kahfi, karena dua hal ini ada perintah spesial dari Kanjeng Nabi SAW. Ya udah, sementara ini dulu yuk... Hanya bisa mengajak baca Sholawat Fatih sekali, mari... ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ ﻋﻠﻰﺳﻴﺪﻧﺎﻣﺤﻤﺪﺍﻟﻔﺎﺗﺢﻟﻤﺎﺍﻏﻠﻖﻭﺍﻟﺨﺎﺗﻢﻟﻤﺎﺳﺒﻖﻧﺎﺻﺮﺍﻟﺤﻖ ﺑﺎﻟﺤﻖ ﻭﺍﻟﻬﺎﺩﻱ ﺍﻟﻰ ﺻﺮﺍﻃﻚﺍﻟﻤﺴﺘﻘﻴﻢ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﺣﻖ ﻗﺪﺭﻩ ﻭﻣﻘﺪﺍﺭﻩ ﺍﻟﻌﻈﻴﻢ Syekh Ahmad at-Tijany r.a berkata :”Keistimewaan sholawat al-Fatih sangat sulit di terima oleh akal, karena ia merupakan rahasia Allooh SWT yang tersembunyi. Seandainya ada 100,000 bangsa, yang setiap bangsa itu terdiri dari 100.000 kaum, dan setiap kaum terdiri dari 100.000 orang, dan setiap orang diberi umur panjang oleh Allooh SWT sampai 100.000 tahun, dan setiap orang bersholawat kepada nabi setiap hari 100.000 x, semua pahala itu belum dapat menandingi pahala membaca sholawat al Fatih 1x. ( al-Fathur Robbany karya Sayyid Muhammad bin Abdillah as-Syafi`ie at-Thoshfaawy at-Tijany hal 99-100 ) Mengulang-ulang bacaan sholawat (apapun shighotnya), lebih diutamakan. Wallahu A'lam.